Oleh: marsudi1924 | 22 September 2008

Dialog Dengan Seorang Syabab Dari Irak

Ahad, 15 Sya’ban 1429 H

Syaikh Abu Abdullaah Al Kurdi adalah seorang profesor ilmu syariah dari salah satu universitas di Irak. Beliau telah aktif sebagai pengemban dakwah dalam 20 tahun terakhir bersama Hizbut Tahrir. Syaikh ini telah meraih beberapa gelar akademik dalam ilmu-ilmu keislaman termasuk beberapa ijasah tradisional. Berikut ini adalah wawancara dengan beliau:

Penanya: Bisakah anda memberi sedikit penjelasan mengenai aktivitas penegakkan Khilafah di Irak?

Abu Abdullah: Dari aspek politik, masyarakat Irak adalah masyarakat yang tercerahkan. Pada saat Kaum Kolonialis pertama kali sampai di Tanah Arab, masyarakat di negeri ini melakukan perlawanan. Hal ini dikenal dan didokumentasikan dengan baik sebagai “the 20th revolution”. Kaum kolonialis pada awalnya menguasai masyarakat ini dengan menggunakan kekuatan. Sebelum rezim Saddam ambruk, ada sebuah konferensi yang diselenggarakan di Irak dalam rangka membahas masa depan Irak. Konferensi tersebut melibatkan seluruh tokoh dan intelektual yang menaruh perhatian terhadap masa depan Irak. Seluruh masyarakat, termasuk kaum Syi’ah dan Sunni, menyatakan bahwa masa depan Irak adalah penerapan hukum Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, kecuali para sekularis sejati yang merupakan agen barat dan kaum kuffar. Seiring dengan berjalannya waktu, usaha kaum kolonilalis terus melemah dan akhirnya gagal setelah mereka tidak lagi memiliki agen yang bisa meyakinkan umat untuk percaya kepada kebebasan dan demokrasi.

Penanya: Dalam situasi penjajahan seperti ini apakah pemerintah mengancam para pejuang Khilafah?

Abu Abdullah: Seperti yang telah saya ungkapkan, masyarakat Irak banyak membicarakan tentang penerapan syariah. Hizbut tahrir memiliki perang besar dalam mengembangkan gagasan ini dalam benak masyarakat. Mereka juga memiliki dua kantor di Baghdad. Pasukan Amerika pernah beberapa kali merusak kantor tersebut berikut pembawanya (?). Bahkan mereka pernah membom kantor itu dan pernah juga membunuh syabab di dalamnya. Sekarang, usaha (untuk menegakkan khilafah itu) semakin besar, dan tidak bisa dihentikan hanya dengan menahan beberapa syabab dan (menghalangi) seruan untuk mengembalikan khilafah.

Penanya: Sebagian orang mengatakan bahwa perjuangan untuk mengembalikan khilafah itu hanya diemban oleh segelintir orang. Apakah di sana ada pihak lain yang juga berjuang untuk khilafah?

Abu Abdullah: Pertama, kita harus memahami satu hal, bahwa ide tentang Khilafah ini bukan hanya gagasan Hizbut tahrir semata, lebih dari itu, gagasan tersebut diterima oleh seluruh ulama, baik pada masa lalu mau pun di jaman modern. Tidak ada seorang pun yang pernah mengingkari eksistensinya kecuali Asam Al Mu’tazili dan belakangan Ali Abdur Raziq dari Al Azhar Mesir. Isu ini merupakan isu seluruh umat dan HT berada di jalur tersebut.

Penanya: Apakah Anda mengenal ulama yang memperjuangkan Khilafah di Irak?

Abu Abdullah: seorang alim pertama yang bisa disebutkan adalah Asy Syaikh Abdul Aziz Al Badri[1] (rahimahullah) yang dibunuh oleh rezim Ba’ats yang oppresive, dan beliau juga berasal dari Hizbut Tahrir. Dan masih banyak lagi ulama dan pemuda (syabab) yang berjuang untuk mengembalikan Khilafah.

Penanya: Terdapat banyak ulama dan syabab pejuang khilafah yang dibunuh oleh rezim Irak. Apakah anda mengetahui sebagian dari mereka?

Abu Abdullah: Saddam Hussain adalah seorang penguasa oppresive yang mengatur negaranya dengan tangan besi seraya menerapkan sosialisme di dalamnya. Dia mempercayai nasionalisme arab dan ingin menyatukan manusia dalam satu simbol. Dia membunuh banyak ulama yang berjuang untuk mengembalikan khilafah, salah satunya adalah yang saya telah sebutkan kepada anda, Syaikh Abdul Aziz Al Badri (rahimahullah), dan Syaikh Muhammad Baqir As Sadr[2]. Dan Syaikh yang membina saya di Hizbut Tahrir, di bunuh pada tahun 1990. Beliau dikenal dengan sebutan Anwar dari Mausul.

Penanya: Sejauh yang kami tahu, di sana ada perseteruan permanent antara Syiah dan Sunni. Apa itu benar?

Abu Abdullah: Syiah dan Sunni, Arab dan NonArab hidup bersama sepanjang sejarah Khilafah, hingga agen-agen Kolonial Inggris menyusup ke tengah-tengah umat dan merusak pemikiran mereka. Salah satu yang paling terkenal di antara mereka yang juga menulis beberapa buku adalah Hempher. Sebagaimana yang ia tulis di dalam bukunya, tujuan utama dia adalah memecah belah masyarakat, namun tujuannya itu tidak berhasil dan tanah ini tetap menyatu sampai hari-hari di mana peristiwa “20th revolution” berlangsung. Kemudian setelah rezim Saddam hancur datanglah kekuatan kolonialis baru yang bernama adalah Amerika. Dengan bantuan para agennya, baik dari kalangan Kudi, Arab mau pun Non-Arab, Amerika terus mencoba untuk menghasut umat islam, namun mereka tidak berhasil. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman,

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Sumber: http://www.Khilafah.com


[1] Abdul Aziz Al Badri, pengarang buku Al Islam Bain Al Ulamaa wa Al Hukkaam, terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut, pernah diterbitkan di Indonesia oleh Pustaka Setia (Judul: Politik Ulama Dalam Menghadapi Penguasa) dan Darul Falah (Hitam-Putih Ulama dan Penguasa). Buku beliau yang lain, Al Islaam, Dloominul-lihajaatil asasiyyati likulli fardin wa ya’malu lirafaahiyatihi, diterbitkan di Indonesia oleh GIP (Hidup Sejahtera Dalam Naungan Islam) dan buku Hukmu Al islam fii Al isytiraakiyah, di cetak di Madinah Al Munawarah oleh Al Maktabah Al Ilmiyah pada tahun 60-an.. Sebelum dibunuh, beliau pernah mendapat tahanan rumah pada masa pemerintahan Abdul Karim Qasim, antara 2 Desember 1959 sampai 2 Desember 1950. Kemudian mendapat kurungan lagi pada 7 Agustus 1961 sampai 4 Desember 1961.

[2] Seorang pemikir ternama dalam khazanah intelektual islam modern, terkenal dengan sebutan Habrul Ummah dari Baghdad, pemimpin pergerakan Hizbud Dakwah Al Islamiyyah, salah satu ulama dari keluarga As Sadr, tewas oleh kekejaman rezim Saddam. Beliau banyak menulis buku yang bercorak sistemik, seperti iqtishoduna dan mujtama’unaa. Buku beliau, Falsafatuna, diterbitkan di Indonesia oleh Mizan dengan judul yang sama, sedangkan buku Al Insan Al Mu’asir wa Al Musykilah Al Ijtima’iyah diterbitkan oleh Penerbit Pustaka dengan judul “Manusia Masa Kini dan Problem Sosial”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: