Oleh: marsudi1924 | 11 November 2010

Di antara Penyakit Mulut adalah Perdebatan

Oleh : Maulana Al-Musawa

Semua saudaraku yang kumuliakan, kuingatkan kalian tentang sesuatu..

Diantara kewajiban yang paling pokok bagi seorang mukmin didunia ini adalah menyampaikan dengan baik ucapan yang keluar dari lisannya dan berhubungan dengan hati dan nurani…nya. sekarang, kita ambil wilayah yang tekait dengan perdebatan, yang mana hal ini membutuhkan pikiran yang cermat untuk memahami mengenai perdebatan yang bermanfaat dan perdebatan yang merusak, umumnya merusak; juga perdebatan yang menyebabkan dekat yang menyebabkan jauh.

Di antara penyakit mulut adalah mira’ (perdebatan), yaitu menentang ucapan orang lain karena meremehkannya. Juga, jidal’ (perdebatan) yang berarti menolak ucapan atau usulan orang lain setelah tampak kesalahannya. Bila kita merenungkan bimbingan Allah dan NabiNya, maka kita tahu bahwa semua itu dalam kebanyakan kondisi sebaiknya dihindari. Dan dalam kondisi-kondisi tertentu yang amat jarang, debat dibutuhkan sebagai sarana untuk memberi penjelasan dan menolak hal-hal yang membawa kerusakan. semua itu terdapat dalam perintah Allah swt untuk mengambil cara terbaik pada saat butuh untuk berdebat.

Allah SWT berfirman :

Artinya:”Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (QS al-Ankabut [29]: 46)

dan…

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125).

Kapan sebuah perdebatan (bantahan) disebut menggunakan cara yang terbaik? yang jelas, bukan debat mencari kepuasan, debat untuk menurunkan martabat orang lain, debat fanatik, debat meremehkan, juga bukan debat untuk mendapatkan kepentingan sementara yang rendah. Tapi, yang dimaksud adalah debat untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai Allah, dengan melakukan bantahan terhadap faham-faham sesat dan pemilik faham yang menyimpang yang menyebarkan fahamnya kepada masyarakat. Dalam konteks ini, kita diperintahkan melakukan bantahan dengan cara yang terbaik, dengan cara menahan mulut dari saat berdebat agar tidak mengucapkan hal-hal yang keluar dari aslinya. Tujuan asli itu adalah melontarkan argumentasi, menjelaskan dalil, dan menerangkan jalan untuk orang yang sedang mencari lampu penerang dalam perjalanannya menuju Sang Maha Raja Yang Maha Agung.

Dengan demikian, dari pemahaman akan perdebatan semacam ini, akan terpancar kepada kita cahaya sunah Nabi saw: bagaimana baginda SAW berdialog? bagaimana beliau mendebat Ahlu Kitab (Yahudi-Nasrani), orang-orang musyrik atau lainnya? Apa pul…a isi kandungan dari kalimat-kalimat beliau? Apakah disitu ada unsur makian? Apakah di situ ada unsur yang bisa menyebabkan kebencian karena melampaui batas dan melanggar hak orang? Tidak! yang ada disitu adalah membuka pintu dialog bagi orang yang sedang mencari penerang (berpikir), orang yang bermaksud baik, serta orang yang sedang mencari petunjuk kebenaran. Oleh karena itu terdapat penjelasan dari Rasulullah saw:

“Aku tidak diutus untuk menjadi tukang laknat. Aku diutus menjadi rahmat.” (HR Muslim)

“Orang mukmin bukanlah tukang mencela, tukang yang berkata kotor dan keji” (HR at-Tirmidzi dan al-Hakim).

perdebatan menjadi sempurna bila dilakukan dengan cara sedemikian. Begitulah seharusnya sampai berdebat dengan orang kafir sekalipun.

Bila sudah demikian, maka bagaimana bisa memberikan bantahan kepada sesama Muslim dengan cara yang keras, kasar, atau menuduhnya sesuatu yang sangat buruk, yakni kekafiran dan kemusyrikan kepada Allah. Semua itu dilontarkan hanya karena adanya perbedaan pendapat dan pandangan. Semua itu dilontarkan dalam kefanatikan, keekstreman dan keangkuhan. Inilah perdebatan tidak bergunayang menjadi tanda kesesatan, sebagaimana dijelaskan dalam Hadist:

“Tidaklah sesat sebuah kaum setelah petunjuk yang ada pada mereka, kecuali yang memiliki perdebatan.” (HR at-Tirmidzi)

Oleh karena itu, kita mendapat ajaran ibadah dalam bentuk mewujudkan etika dalam masalah memberi penjelasan, agar perdebatan tidak berubah dari sesuatu yang paling baik menjadi sebuah keburukan. Maka, dalam ibadah puasa misalnya, kita mendapat peritah untuk menahan diri dari perdebatan, makian, dan bantahan.

“Bila tiba hari berpuasa salah satu kalian, maka janganlah berkata keji dan membuat kegaduhan. bila ada orang memakinya atau mencacinya, maka katakanlah, “sesungguhnya aku orang yang sedang berpuasa.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Ini sebagai peljaran bagi umat agar mereka bisa menguasai dorongan-dorongan perdebatan, bukan dikuasai oleh dorongan-dorongan perdebatan perdebatan itu. Sehingga, ia tidak menggunakan cara debat ini kecuali pada tempatnya dan dengan cara cara yang benar serta diridhai oleh Allah SWT.

Marilah kita dalam segala sesuatunya kembali kepada Allah swt dan sunnah Rasul saw, karena itulah sebaik-baiknya pengajaran..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: