Oleh: marsudi1924 | 12 April 2011

Jadilah Penolong Dînul-Lâh

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (TQS al-Shaff [61]: 14).

Inginkah kita menjadi orang yang mulia di hadapan Allah dan berhak mendapat pertolongan-Nya? Berju-anglah sekuat tenaga untuk menjadi anshârul-Lâh, para penolong agama Allah SWT. Untuk itu, kita perlu mendalami ayat di atas yang memerintahkan kita untuk menjadi para ‘peno-long-Nya’ dan balasan kebaikan yang akan diberikan.

Penolong Agama Allah
Allah SWT berfirman: Yâ ayyuhâ al-ladzîna âmanû kûnû anshâral-Lâh (hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong [agama] Allah). Khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada orang-orang Mukmin. Seruan ini me-lengkapi seruan sebelumnya yang menawarkan iman dan jihad sebagai al-tijârah dengan keuntungan berupa terselamat-kan dari azab yang pedih dan berbagai ganjaran lainnya yang menggiurkan. Dalam ayat ini, mereka diserukan untuk menjadi anshârul-Lâh.

Kata al-anshâr merupakan bentuk jamak dari kata al-nâshir (penolong). Ketika dimudhafkan kepada lafzh al-Jalâlah, yakni Allah, tentu tidak bermakna ha-kiki. Sebab, Dia tidak membutuh-kan pertolongan siapa pun. Sebaliknya, Dia-lah yang Maha Penolong terhadap hamba yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, sebagaimana dijelaskan Fakhruddin al-Razi dan para mufassir lainnya, pengertian menjadi anshârul-Lâh adalah dengan menolong agama-Nya. Juga, menolong para nabi dan kekasih-Nya. Demikian al-Jazairi dalam tafsirnya, Aysar al-Tafâsîr.

Mengomentari ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Firman ini merupakan perintah terhadap hamba-Nya yang Mukmin untuk menjadi anshârul-Lâh dalam semua keadaan, baik dengan ucapan, perbuatan, jiwa, dan harta mereka. Juga untuk meme-nuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana kesediaan al-Hawariyyin yang memenuhi panggilan Isa.”

Kemudian dijelaskan me-ngenai gambaran anshârul-Lâh yang telah dilakukan oleh para pengikut Isa AS. Allah SWT ber-firman: Kamâ qâla ‘Isâ [i]bnu Maryam li al-hawâriyyîn (sebagai-mana Isa putra Maryam telah ber-kata kepada pengikut-pengikut-nya yang setia). Artinya, kaum Mukmin diperintahkan untuk menjadi anshârul-Lâh seperti halnya yang pernah dilakukan oleh para pengikut Nabi Isa, al-hawâriyyûn. Kata al-hawâriyyûn berasal dari kata al-hûr yang berarti al-bayâdh (warna putih).

Secara bahasa, al-hawâriyy berarti al-nâshih (pemberi nasi-hat), al-nâshir (pembantu, penolong), dan al-hamîm (saha-bat karib). Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki al-hawariyy, dan ha-wariyy-ku adalah al-Zubair”. Sufyan berkata: “al-Hawariyy artinya al-nâshir (penolong)” (HR al-Bukhari dari Jabir bin Abdul-lah, Ahmda dan al-Tirmidzi dari Ali).

Dalam Alquran, sebutan al-hawâriyyîn dilekatkan kepada para sahabat Nabi Isa AS (lihat QS Ali Imran [3]: 52, al-Maidah [5]: 111, 112. Menurut para mufassir, mereka adalah orang-orang yang pertama kali beriman kepada Nabi Isa. Jumlah mereka ada 12 orang. Ketika itu, Nabi Isa bertanya kepada mereka: Man anshârî ilâl-Lâh (“siapakah yang akan menjadi penolong-peno-longku [untuk menegakkan aga-ma] Allah?”). Pertanyaan ber-makna: “Siapakah yang menjadi pembantuku dalam dakwah kepada Allah Azza wa Jalla?” Demikian penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Mendapat pertanyaan ter-sebut, mereka pun menjawab sebagaimana disebutkan dalam frasa selanjutnya: Qâla al-hawâ-riyyîna nahnu anshârul-Lâh (pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama Allah”). Jawab-an mereka sangat tegas. Mereka menyatakan kesediaannya men-jadi penolong-penolong agama Allah. Menurut Ibnu Katsir, ja-waban mereka itu berarti, “Kami menjadi penolong dan pemban-tumu atas perkara yang kamu diutusnya.” Dan oleh karena itu, Nabi Isa kemudian mengutus mereka sebagai pendakwah ke-pada manusia di negeri-negeri Syam, Bani Israel, dan Yunani.

Menjadi Pemenang
Demikianlah sikap Nabi Isa as beserta para sahabatnya. Mereka konsisten menolong agama-Nya. Sementara Bani Israel yang menjadi objek dak-wahnya terbelah menjadi dua. Pertama: fa âmanat thâifah min Banî Isrâîl (lalu segolongan dari Bani Israel beriman). Di antara mereka ada yang mau beriman. Dalam hal Isa as, mereka meya-kininya sebagai hamba dan rasul-Nya. Meyakini risalah yang di-bawanya dan keberadaannya sebagai nasakh atas risalah sebelumnya yang dibawa Nabi Musa as. Juga meyakini bahwa beliau tidak mati ditiang salib. Akan tetapi, diselamatkan dan diangkat ke langit.

Dan kedua: wa kafarat thâifah (dan segolongan [yang lain] kafir). Sebagian lainnya, ingkar terhadap kenabian Isa as dan menolak risalahnya. Bahkan melemparkan tuduhan tak ber-dasar kepadanya, seperti yang dilakukan kaum Yahudi. Atau memiliki keyakinan batil yang menyebabkan mereka terjeru-mus kepada kesesatan, seperti kaum yang mengaku sebagai pengikutnya, yakni kaum Nas-rani. Mereka mengklaim bahwa Nabi Isa adalah anak Tuhan, salah satu dari tiga oknum Tuhan, dan sebagainya. Semuanya termasuk dalam satu thâifah ini, yakni thâifah kâfirah (kelompok kufur).

Kepada kelompok pertama, yakni kelompok yang beriman, dijanjikan mendapat perto-longan dari-Nya. Allah SWT berfirman: fa ayyadnâ al-ladzîna âmanû ‘alâ ‘aduwwihim (maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman ter-hadap musuh-musuh mereka). Dijelaskan Ali al-Shabuni, pe-ngertian ayyadnâ adalah qaw-waynâ wa sânadnâ (Kami kuat-kan dan Kami bantu). Sedangkan ‘aduwwihim adalah orang-orang kafir. Menurut Ibnu ‘Abbas kelompok-kelompok yang kafir itu bersatu memerangi dan mengusir kelompok yang Muk-min. Keadaan tersebut terus berlangsung hingga diutusnya Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, keadaannya berbalik. Kelom-pok yang Mukmin mengalahkan kelompok yang kafir. Oleh karena itu, menurut Ibnu Katsir, per-tolongan terhadap mereka ada-lah dengan diutusnya Rasulullah SAW.

Ditegaskan pula: fa ashba-hû zhâhirîn (lalu mereka menjadi orang-orang yang menang). Bahwa mereka akan ditetapkan sebagai kelompok ghâlibîn (yang menang). Mengenai pertolong-an Allah SWT kepada rasul-Nya disebutkan dalam beberapa ayat. Di antaranya adalah QS Ghafir [4]: 51.

Apabila Nabi Isa memiliki al-hawariyyun yang bersedia menjadi para penolongnya, Ra-sulullah SAW juga memiliki para sahabat yang menjadi anshâr. Ketika Rasulullah terjepit me-ngembangkan dakwahnya di Makkah, beliau bersabda, “Ada-kah orang yang akan menolongku sehingga aku dapat menyampai-kan risalah Tuhanku karena orang Quraisy telah menghalangi jalan-ku untuk menyampaikan risalah Tuhanku”. Kemudian Allah SWT mendatangkan suku ‘Aus dan Khazraj penduduk Madinah. Mereka bersedia membaiat dan membantu Nabi SAW, serta berjanji untuk menjaganya ketika berhijrah kepada mereka. Setelah beliau bersama para sahabatnya berhijrah, mereka pun menepati janjinya. Dan oleh karena itu, Allah dan rasul-Nya menyebut mereka al-Anshâr. Dan sebutan itu pun ditetapkan sebagai nama bagi mereka. Demikian tutur Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Mereka memang layak mendapatkan gelar sebagai kaum Anshar karena telah menolong agama-Nya dengan menyerahkan kekuasaan dan negaranya kepada Rasulullah untuk diterapkan Islam secara kaffah. Kini kesempatan tersebut kembali terbuka lebar. Tentu jika kita mau mengikuti jejak mereka: menyerahkan kekuasaan negeri ini kepada yang berhak untuk diterapkan syariah secara kaffah. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.[]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: