Oleh: marsudi1924 | 25 Desember 2011

Mentaati Hukum Syara’ Hanya Karena Takut Terhadap Hukuman

Neraka

neraka

Pertanyaan:
Jika khilafah berdiri, maka negara akan menegakkan hukum Islam. Banyak manusia yang akan mengamalkan ajaran Islam karena takut terhadap hukum, bukan karena benar-benar mentaati perintah Allah secara ikhlas.

Jawab:
Jawaban singkatnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori di dalam Shohihnya, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum (hudud) Allah dengan orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang menumpang sebuah kapal dimana sebagian dari mereka ada di bagian atas dan sebagian yang lain ada di bagian bawah. Jika orang-orang yang ada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang ada di atasnya. Lalu mereka berkata, “alangkah baiknya jika kita membuat suatu lubang pada bagian kita dan tidak mengganggu orang-orang yang ada di atas kita”, jika orang-orang membiarkan mereka untuk melakukan apa yang mereka kehendaki, maka semuanya akan binasa, namun jika orang-orang mencegah tindakan tersebut, maka semuanya akan selamat”.

Demikianlah, Islam melihat bahwa manusia tidak hanya hidup sebagai dirinya sendiri, tapi ia bersama-sama dengan orang lain, menyatu membentuk pribadi abstrak yang lebih besar, bernama masyarakat. Ibnu Kholdun mengatakan bahwa manusia itu secara alami merupakan makhluk yang bermasyarakat (al insanu madaniyun bith thob’i), sebab, manusia tidak mungkin hidup tanpa meleburkan diri ke dalam lingkungan sosialnya guna berinteraksi dengan manusia lain. Maka dari itu, Islam tidak sekedar menghendaki terwujudnya pribadi-pribadi yang islami, lebih dari itu, islam juga menghendaki adanya suatu bentuk kehidupan masyarakat yang islami pula. Bahkan, kehidupan seseorang tidak mungkin bisa sepenuhnya islami kecuali jika ia juga hidup dalam masyarakat yang islami. Hal itu disebabkan karena kehidupan seorang individu sangat dipengaruhi oleh keadaan masyarakatnya. Jika masyarakatnya islami, maka dia akan bisa hidup dan berinteraksi dengan orang lain secara islami pula; namun jika masyarakatnya rusak maka ia pun akan berinteraksi dalam lingkungan yang rusak, dan akan ikut tenggelam dalam kerusakkan tersebut. Maka, keislaman seorang muslim sulit terwujud secara sempurna jika ia hidup dalam masyarakat yang tidak islami.

Manusia tidak mungkin bisa melepaskan diri dari sistem yang mengatur linkungan sosialnya. Seorang muslim yang ada di tengah masyarakat yang berjalan dengan hukum-hukum kapitalis-sekuler-liberal, misalnya, tidak akan bisa sepenuhnya hidup secara islami. Sistem sekuler itu sedikit banyak akan masuk dalam kehidupannya, dan akan ikut mengatur sebagian tindakkannya, minimal pada saat harus berinteraksi dengan masyarakat. Misalnya, dia akan belajar di sekolah-sekolah yang di dalamnya terjadi ikhtilath (campur-baur) antara siswa laki-laki dan perempuan; atau ia akan banyak terjerat transaksi-transaksi harta yang tidak syar’i; atau tidak bisa melakukan amar ma’ruf nahi munkar karena hukum yang berlaku secara formal berbeda dengan hukum-hukum syara’ yang dia anut. Dia akan benar-benar mengalami kesulitan karena ia hidup dalam media yang tidak kompatibel dengan apa yang dia peluk. Demikianlah, seorang muslim yang hidup di tengah masyarakat yang tidak islami akan ikut tenggelam dalam kehidupan yang buruk tersebut.

Dengan demikian, untuk mewujudkan kehidupan yang sepenuhnya berjalan menurut Islam, kita membutuhkan keberadaan masyarakat yang islami. Untuk itu, harus ada suatu perangkat sistem yang mengatur masyarakat agar berjalan sesuai dengan Islam. Sebab, jika kita hendak mewujudkan masyarakat yang baik, diperlukan keteraturan, sementara keteraturan itu sendiri tidak akan terwujud kecuali dengan adanya aturan serta penegakkan aturan yang konsisten.

Memang benar, masyarakat islami tidak semata-mata terbentuk dengan adanya penegakkan hukum islam. Sebelumnya, memang diperlukan usaha untuk menyatukan pemikiran dan perasaan masyarakat dengan Islam. Namun, adalah suatu hal yang mustahil untuk membentuk masyarakat yang semua penduduknya 100% memiliki pemikiran dan perasaan yang Islami. Pasti ada manusia-manusia di masyarakat yang hati dan pikirannya tidak selaras dengan islam, bahkan mungkin menentang islam. Maka, masyarakat yang islami tidak semata-mata dan tidak secara otomatis terbentuk ketika semua individu-individunya telah memiliki pemikiran dan perasaan yang islami. Di samping hal tersebut hampir tidak mungkin terjadi, masyarakat juga membutuhkan aturan formal guna memastikan bahwa seluruh interaksi mereka akan berjalan sesuai dengan islam. Ketika aturan telah ditegakkan, manusia-manusia yang pikiran dan hatinya tidak mau tunduk kepada Islam akan ditundukkan dengan aturan yang mengikat mereka secara formal. Hal ini senada dengan apa yang dituturkan oleh Ibnu Taimiyah: “Amar ma’ruf nahi munkar tidak mungkin bisa berjalan sempurna tanpa penegakkan sanksi-sanksi syar’i. Sebab, Allah akan mencegah dengan kekuatan terhadap perkara-perkara yang tidak tercegah dengan Al Qur’an ” (Al Hisbah fil Islam).

Di sinilah arti penting pemerintahan dalam islam, yaitu berfungsi sebagai institusi penegak dan penjaga hukum Islam demi kelestarian kehidupan masyarakat yang islami. Maka, eksistensi pemerintahan yang menegakkan hukum islam adalah mutlak dibutuhkan dalam mewujudkan kehidupan sosial yang islami, sebagaimana dikatakan oleh Al Ghozali: “Agama itu adalah fondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi akan runtuh, sedangkan sesuatu yang tidak memiliki penjaga akan hilang” (Al Iqtishod fil I’tiqod).

Kesimpulan
Dengan demikian, arti penting penegakkan hukum Islam oleh penguasa adalah untuk menjaga kewibawaan Islam di masyarakat (baik muslim maupun non-muslim) dan untuk menjamin stabilitas kehidupan masyarakat yang islami, bukan untuk menjamin keikhlasan masyarakat dalam menjalankan Islam. Adapun langkah yang dilakukan negara untuk membina keikhlasan kaum muslimin adalah membina kepribadian mereka dengan sistem pendidikan yang islami, bukan penegakkan hukum. [ bengkel fikrah,16/8/11]

Sumber:http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150277756952707


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: